Dinamika Dalam Penyusunan Data Pemilih Kota Jakarta Timur

Penulis : Heru Muharto

Jakarta, Nikmatnya secangkir kopi berasal dari racikan kopi yang berkualitas begitu juga dengan pemilihan umum tidaklah berkualitas sebuah Pemilihan Umum apabila daftar pemilihnya diolah dan disajikan secara tidak tertata dan kurang berkualitas. Inilah tantangan yang harus dilalui oleh KPU Kota Jakarta Timur setelah perhelatan politik 2019 berlalu. Pemeliharaan data pemilih terus dilakukan oleh KPU Kota Jakarta Timur, segala bentuk dan cara dilakukan dalam pemeliharaan  sehingga suksea melakukan rekapitulasi hasil pemutakhiran Daftar Pemilih Berkelanjutan Tahun 2020 sebanyak 10 periode sejak Maret sampai dengan Desember 2020 dan KPU Kota Jakarta Timur mengharapkan masyarakat lebih aktif lagi dalam berpartisipasi pada pendaftaran pemilih saat masa tahapan Pemilu berlangsung.

Menurut Tedi Kurnia (Anggota KPU Divisi Pemutakhiran Data Pemilih) dalam penyusunan daftar pemilih yang berkualitas terutama di Jakarta Timur tidak lah mudah mengingat tingkat mobilisasi penduduk yang tinggi dan terdapat dalam setiap langkah penyusunan Daftar Pemilih sementara  hingga Daftar Pemilih Tetap. Disebutkan masalah klasik menjadi isu utama yang tidak pernah kunjung usai dalam beberapa periode ini.

Sebelum ditetapkannya Daftar Pemilih Sementara, KPU Kota Jakarta Timur melakukan pemetaan TPS terlebih dahulu dengan memperhatikan beberapa aspek yakni administrasi kependudukan, letak geografis wilayah, dan kemudahan akses menuju TPS dan keadaan sosial dalam wilayah tersebut. Diketahui bahwa permasalahan dimulai dari masa pemetaan, dimana yang menjadi titik awal masalah tersebut adalah terkadang ada wilayah yang tidak mau TPSnya bergabung dengan wilayah lain mengingat pada saat itu komposisi TPS maksimal adalah sebanyak 300 orang saat Pemilihan Umum 2019, sehingga Panitia Pemungutan Suara (PPS) harus mengambil langkah kongkrit dalam penyelesaian masalah tersebut, kemudian tahapan berlanjut pada pendataan-pendataan yang bersifat administratif seperti pencocokan dan penelitian (Coklit) baik dengan administrasi standar ataupun administrasi yang memerlukan pendekatan secara khusus seperti Lapas rutan dan apartemen yang cenderung bersifat ekslusif, untuk pemilih terbanyak di Jakarta Timur terletak pada Kecamatan Cakung tepatnya di Kelurahan Pulogebang, setiap wilayah memiliki masalah-masalah tersendiri dari yang ringan hingga masalah yang krusial, selain itu adapun hambatan lain atau gangguan yang terdapat dalam penyusunan daftar pemilih adalah pendataan pada panti-panti sosial. Tedi Kurnia menyatakan bahwa perlu adanya perlakuan dan sosialisasi yang lebih pada sektor ini termasuk pada kaum-kaum marginal dan disabilitas, hal yang menantang tapi bisa dilalui itulah yang di pegang oleh tim Data KPU Kota Jakarta Timur demi tersusunnya daftar pemilih yang baik dan meminimalisir angka pemilih yang tidak terdaftar, untuk itu besar harapan kami apapun yang kami lakukan dilapangan didukung oleh payung hukum atau kebijakan yang sekiranya secara nyata dapat mengamankan KPU Jakarta Timur saat mengambil langkah diskresi.

Sub Koordinator Program dan Data Wahyu Herlambang memberikan sebuah gambaran saat pelayanan pemutakhiran daftar pemilih pada masa perpindahan pemilih dimana KPU Kota Jakarta Timur harus memudahkan administrasi dalam melayani tanpa melanggar aturan dan batasan-batasan yang telah ditetapkan, Belum lagi masalah yang berada dalam perbedaan pandangan-pandangan tentang pengadministrasian kependudukan dan ada pemilih yang merasa tidak tahu tentang pendaftaran pemilih, sehingga besar harapan kami di pemilu yang akan datang Standar Operasional Prosedur untuk pelaksana di lapangan tidak berubah dalam jangka waktu yang bisa dianggap terlalu cepat karena akan mengubah pengadministrasian saat pelayanan berlangsung.

Luasnya wilayah kota Jakarta Timur terlebih lagi dengan banyaknya pendatang dan wilayah abu-abu (grey area) yang ada menjadikan Jakarta Timur sebagai tolak ukur keberhasilan dari penyusunan daftar pemilih di DKI Jakarta, bagaimana tidak menjadi contoh jika luas kota 188,03 km2 (7,260 sq mi) dengan 10 Kecamatan dan 65 Kelurahan ini memiliki problem tersendiri dalam penyusunan daftar pemilih, pada DPTHP 3 Jumlah Pemilih di Jakarta Timur sebanyak 2.246.279 pemilih dan beranjak naik perlahan 1,01% hingga akhir pemutakhiran Daftar Pemilih Berkelanjutan Tahun 2020 yakni sebanyak 20.083 pemilih.

Data statistik kependudukan secara periodik tentu dibutuhkan dalam penyusunan daftar pemilih mengingat Kota Jakarta Timur merupakan kota yang memiliki mobilitas tinggi pada sektor kependudukan sehingga KPU Kota Jakarta Timur dapat memprediksi sebaran penduduk dalam kota Jakarta Timur secara periodik dalam pemutakhiran daftar pemilih. Untuk itu KPU Kota Jakarta Timur terus melakukan koordinasi dengan stakeholder terkait dengan administrasi kependudukan. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil memberikan data sanding pasca Pemilihan Umum 2019 untuk KPU Kota Jakarta Timut melalui KPU Provinsi DKI Jakarta yang menjadi patokan pemutakhiran Daftar Pemilih Berkelanjutan Tahun 2020 yang lalu.

Disisi lain Wahyu Herlambang menyatakan bahwa fasilitasi dalam bentuk pemeliharaan dan pengadministrasian data pemilih jika tidak di lakukan dengan baik akan mempengaruhi kinerja secara krusial dalam pelaksanaan pemilihan umum salah satu contohnya adalah penetapan TPS dan Logistik dalam pemenuhan keperluan penyelenggaraan Pemilu.

Previous articleData Pemilih Berkelanjutan : Antisipasi Dini KPU dalam Meningkatkan Kualitas Data Pemilih
Next articleRUU Pemilu : Antara Sikap DPR dan Aspirasi Publik