KPU Kota Jakarta Timur Terima Audiensi Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Jayabaya
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Jakarta Timur menerima audiensi dan kunjungan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Jayabaya di Museum Perjalanan Pemilu, Rabu (14/01/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya edukasi kepemiluan bagi generasi muda, khususnya mahasiswa, agar lebih memahami sejarah dan dinamika penyelenggaraan pemilu di Indonesia. Audiensi tersebut dihadiri langsung oleh Ketua KPU Kota Jakarta Timur Tedi Kurnia, Anggota KPU Kota Jakarta Timur Marhadi, Rio Verieza, dan Fahrur Rohman, serta Sekretaris KPU Kota Jakarta Timur Solahuddin. Rombongan mahasiswa disambut dengan pemaparan mengenai perjalanan demokrasi Indonesia serta peran strategis KPU dalam menjaga integritas pemilu. Ketua KPU Kota Jakarta Timur Tedi Kurnia menyampaikan bahwa kunjungan mahasiswa ke Museum Perjalanan Pemilu memiliki nilai strategis dalam membangun kesadaran demokrasi sejak dini. “Melalui museum ini, kami ingin memberikan gambaran utuh kepada mahasiswa tentang bagaimana pemilu di Indonesia berkembang dari masa ke masa, termasuk tantangan dan dinamika yang dihadapi,” ujar Tedi. Senada dengan itu, Anggota KPU Kota Jakarta Timur Marhadi menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam proses demokrasi. Menurutnya, pemahaman yang baik tentang sejarah pemilu akan mendorong mahasiswa untuk berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab. “Mahasiswa adalah agen perubahan. Dengan memahami proses dan nilai-nilai pemilu, diharapkan mereka dapat ikut menjaga kualitas demokrasi ke depan,” jelas Marhadi. Kegiatan audiensi ini juga diisi dengan sesi diskusi interaktif antara mahasiswa dan jajaran KPU Kota Jakarta Timur, yang membahas peran lembaga penyelenggara pemilu serta aspek hukum kepemiluan. Museum Perjalanan Pemilu menjadi sarana pembelajaran visual yang memperkaya wawasan mahasiswa mengenai perjalanan demokrasi bangsa. Melalui kegiatan ini, KPU Kota Jakarta Timur berharap mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Jayabaya semakin memahami sejarah dan dinamika penyelenggaraan pemilu di Indonesia, sekaligus menumbuhkan komitmen untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan demokrasi yang jujur, adil, dan berintegritas. (pnd/parmas&sdm) ....
Ketua KPU RI Kunjungi Museum Perjalanan Pemilu KPU Kota Jakarta Timur
Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia, Mochammad Afifuddin, melakukan kunjungan kerja ke KPU Kota Jakarta Timur pada Senin (5/1/2025). Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung Museum Perjalanan Pemilu yang dikelola oleh KPU Kota Jakarta Timur. Dalam kunjungannya, Ketua KPU RI didampingi oleh Ketua KPU Provinsi Daerah Khusus Jakarta Wahyu Dinata, Kepala Biro Partisipasi dan Hubungan Masyarakat (Parhumas) KPU RI beserta jajaran. Mereka disambut langsung oleh Ketua KPU Kota Jakarta Timur Tedi Kurnia bersama seluruh anggota KPU Kota Jakarta Timur dan Sekretaris KPU Kota Jakarta Timur Solahuddin. Pada kesempatan tersebut, Ketua KPU RI Mochammad Afifuddin menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap inisiatif dan pengelolaan museum tersebut. “Saya memberikan apresiasi yang luar biasa kepada KPU Kota Jakarta Timur atas pengelolaan Museum Perjalanan Pemilu ini. Museum ini tidak hanya menjadi arsip sejarah, tetapi juga sarana edukasi yang sangat penting untuk meningkatkan literasi demokrasi masyarakat,” ujar Mochammad Afifuddin. Ia menambahkan bahwa keberadaan museum pemilu dapat menjadi contoh baik bagi satuan kerja KPU di daerah lain dalam mendokumentasikan dan menyebarluaskan perjalanan demokrasi Indonesia. Sementara itu, Ketua KPU Kota Jakarta Timur Tedi Kurnia menyampaikan bahwa museum tersebut merupakan komitmen KPU Kota Jakarta Timur dalam mendukung pendidikan pemilih dan pelestarian sejarah pemilu. Tedi berharap, melalui kunjungan ini Museum Perjalanan Pemilu KPU Kota Jakarta Timur dapat terus dikembangkan sebagai pusat edukasi demokrasi yang terbuka bagi masyarakat luas, khususnya generasi muda. (pnd/parmas&sdm) ....
Kunjungan Benchmarking ke UP Pengujian Kendaraan Bermotor Pulogadung Berpredikat WBK dan WBBM
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Jakarta Timur mengunjungi Unit Pengelola Pengujian Kendaraan Bermotor Pulogadung dalam rangka Benchmarking Pencanaan Pembangunan Zona Integritas menuju Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM) pada Kamis 11 Desember 2025. Kunjungan ini dipimpin langsung oleh Ketua KPU Kota Jakarta Timur Tedi Kurnia dan didampingi oleh Anggota Rio Verieza serta Kasubbag Teknis dan Hukum Destri Natali Putranti dan Kasubbag Parmas dan SDM Nancy Mamahit berserta jajaran Sekretariat. Kehadiran rombongan disambut hangat oleh Tim Pembangunan Zona Integritas UP Pengelola Pengujian Kendaraan Bermotor Pulogadung. Benchmarking dalam rangka Pembangunan ZI menuju WBK-WBBM merupakan miniatur penerapan reformasi birokrasi yang bertujuan untuk membangun program reformasi birokrasi sehingga mampu mengembangkan budaya kerja birokrasi yang anti korupsi, berkinerja tinggi, dan memberikan pelayanan publik yang berkualitas. Ketua KPU Kota Timur Tedi Kurnia menekankan, dengan adanya benchmarking ini, diharapkan dapat dicontoh dan diimplementasikan langkah dan strategi serupa guna memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat di KPU Kota Jakarta Timur. ....
KPU Kota Jakarta Timur Gelar Rapat Pleno Rekapitulasi PDPB Triwulan IV 2025
Jakarta - KPU Kota Jakarta Timur melaksanakan Rapat Koordinasi dan Rapat Pleno Rekapitulasi Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan (PDPB) Triwulan IV Tahun 2025 pada Senin, 8 Desember 2025, bertempat di Kantor KPU Kota Jakarta Timur. Kegiatan dihadiri oleh Anggota KPU Provinsi DKJ, Irwan S. Rambe, serta pemangku kepentingan dari berbagai instansi di wilayah Jakarta Timur. Rapat dipimpin oleh Ketua KPU Kota Jakarta Timur, Tedi Kurnia, bersama Ketua Divisi Perencanaan, Data, dan Informasi, Fahrur Rohman, serta komisioner Marhadi dan Rio Verieza. Ketua KPU Kota Jakarta Timur, Tedi Kurnia, menegaskan komitmen lembaga dalam menjaga akurasi data pemilih. “Pemutakhiran data harus dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan setiap warga yang memenuhi syarat tercatat dengan benar,” ujar Tedi. Sementara itu, Fahrur Rohman menambahkan bahwa verifikasi data dilakukan secara cermat dan terkoordinasi dengan instansi terkait guna memastikan validitas data pemilih. Melalui rapat ini, KPU Kota Jakarta Timur menegaskan komitmennya untuk menghadirkan daftar pemilih yang akurat, mutakhir, dan transparan sebagai bagian dari persiapan menuju pemilu mendatang. Berita dan Hasil Rekapitulasi dapat diunduh disini ....
KPU Kota Jakarta Timur Laksanakan Sosialisasi Anti-Korupsi untuk Penguatan Integritas Penyelenggaraan Pemilu
KPU Kota Jakarta Timur menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Anti-Korupsi pada Jumat (5/12/2025) sebagai upaya memperkuat integritas dan tata kelola di lingkungan internal penyelenggara pemilu. Kegiatan ini dibuka oleh Ketua KPU Kota Jakarta Timur, Tedi Kurnia, serta dihadiri para komisioner dan seluruh pegawai sekretariat. Dalam sambutannya, Tedi menegaskan pentingnya membangun penyelenggaraan pemilu yang transparan dan bebas dari praktik korupsi. “Integritas adalah pondasi utama KPU dalam menjaga kepercayaan publik. Karena itu, setiap langkah yang kita ambil harus mencerminkan profesionalitas dan tanggung jawab,” ujarnya. Sebagai narasumber, hadir Akademisi dan Dosen Pascasarjana Universitas Jayabaya, Dr. Hedwig Adianto Mau, S.H., M.Hum, yang memaparkan pentingnya pencegahan korupsi melalui penguatan budaya kerja dan kepatuhan terhadap etika layanan publik. Dalam penjelasannya, ia menyampaikan bahwa korupsi kerap berawal dari hal kecil yang diabaikan. “Pencegahan korupsi bukan hanya soal aturan, tetapi soal karakter dan keteladanan di setiap level organisasi,” jelas Dr. Hedwig. Ia berharap kegiatan ini dapat memperkuat komitmen seluruh jajaran KPU Kota Jakarta Timur dalam menjaga pemilu yang jujur, adil, dan kredibel. (pnd/parmas&sdm) ....
Anggota Bawaslu RI Berkunjung ke Museum Perjalanan Pemilu di KPU Kota Jakarta Timur
Jakarta - Anggota Bawaslu RI, Herwyn J.H. Malonda, melakukan kunjungan ke Museum Perjalanan Pemilu pada Selasa (2/12/2025). Kedatangannya disambut langsung oleh Anggota KPU Kota Jakarta Timur, Fahrur Rohman, bersama jajaran staf sekretariat. Kunjungan ini menjadi bagian dari agenda penguatan pemahaman kelembagaan terhadap jejak sejarah penyelenggaraan pemilu. “Museum ini bukan hanya ruang arsip, tetapi ruang refleksi agar kita tidak lupa bahwa kualitas pemilu dibangun dari proses panjang,” ujar Herwyn saat memulai tur museum. Herwyn hadir bersama jajaran Bawaslu Kota Jakarta Timur, termasuk Ketua Willem J. Wetik. Dalam rangkaian kunjungan, rombongan meninjau koleksi perkembangan kepemiluan dari masa ke masa, mulai dari perangkat pemungutan suara tradisional hingga teknologi yang kini digunakan dalam proses administrasi pemilu. Fahrur Rohman menyampaikan apresiasinya atas kunjungan tersebut. “Sinergi dengan Bawaslu sangat penting. Kami menyambut baik setiap upaya kolaboratif untuk memahami tantangan dan peluang dalam penyelenggaraan pemilu,” tuturnya. Kegiatan ini menjadi momentum strategis bagi KPU dan Bawaslu dalam memperkuat koordinasi menjelang penyelenggaraan pemilu mendatang. Melalui kunjungan ke Museum Perjalanan Pemilu, kedua lembaga menegaskan kembali komitmen untuk meningkatkan profesionalitas, transparansi, dan integritas pemilu. (pnd/parmas&sdm) ....
Publikasi
Opini
Oleh: Pendy Wijanarko (Staf Humas & SDM KPU Jakarta Timur) Di tengah turbulensi politik yang kian dinamis, demokrasi konstitusional Indonesia menghadapi ujian paling serius sejak era reformasi. Mekanisme yang selama ini dianggap sebagai tiang kokoh (seperti konstitusi, lembaga perwakilan, hingga proses pemilihan umum) tidak lagi cukup menjadi jaminan bahwa demokrasi berjalan sesuai cita-cita awalnya. Ketegangan antara legalitas dan legitimasi semakin sering muncul, memaksa publik mempertanyakan arah demokrasi kita. Masihkah ia berpihak pada kedaulatan rakyat atau perlahan digeser oleh kepentingan kekuasaan? Tantangan itu muncul dari dua arah. Pertama, datang dari dalam institusi demokrasi sendiri. Proses legislasi yang kerap terburu-buru, perdebatan publik yang terpinggirkan, hingga tafsir konstitusi yang cenderung politis, memperlihatkan bahwa demokrasi dapat melemah bukan hanya oleh pelanggaran aturan, tetapi juga oleh manipulasi atas aturan itu. Kedua, datang dari perubahan sosial yang bergerak lebih cepat dibanding kesiapan negara. Informasi digital, polarisasi identitas, dan politik algoritma memecah ruang publik sehingga dialog rasional dalam konteks membangun fondasi demokrasi justru sering tenggelam oleh gelombang emosi dan misinformasi. Karena itu, demokrasi konstitusional membutuhkan arah baru, bukan dalam arti mengganti konstitusi sebagai fondasi, tetapi menegaskan kembali semangat yang menghidupinya. Ada tiga langkah mendesak. Pertama, memperkuat lembaga kontrol, terutama mereka yang bekerja menjaga keseimbangan kekuasaan. Transparansi putusan dan kinerja lembaga publik harus menjadi standar, bukan sekadar slogan. Kedua, menghadirkan partisipasi publik yang lebih otentik. Demokrasi tidak cukup dengan hadir di bilik suara, ia menuntut ruang partisipasi yang memungkinkan warga terlibat dalam penyusunan kebijakan sejak tahap awal. Ketiga, membangun literasi digital politik yang menyeluruh agar masyarakat dapat membedakan informasi dari manipulasi. Arah baru ini pada akhirnya menuntut keberanian: keberanian institusi untuk menahan diri dari godaan kekuasaan, keberanian warga untuk aktif bersuara, dan keberanian elite politik untuk memulihkan kepercayaan publik. Demokrasi konstitusional tidak pernah selesai dikerjakan, ia hidup sejauh rakyatnya bersedia merawatnya. Di tengah berbagai tantangan, Indonesia tetap memiliki modal penting: kesadaran kolektif bahwa demokrasi bukan hanya sistem politik, tetapi nilai yang mencerminkan martabat sebagai bangsa merdeka. Arah baru bukan berarti meninggalkan masa lalu, melainkan menyempurnakannya agar demokrasi tetap relevan dan berpihak pada rakyat. Karena pada akhirnya, masa depan demokrasi bukan ditentukan oleh konstitusi semata, tetapi oleh komitmen kita untuk menegakkannya. Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Lembaga maupun Redaksi
Oleh: Pendy Wijanarko (Staf Humas & SDM KPU Jakarta Timur) Pemilu telah usai. Suara rakyat telah dihitung, para pemenang telah ditetapkan, dan proses demokrasi kembali menunjukkan kedewasaannya. Namun, di balik dinamika politik dan euforia hasil pemilu, ada pekerjaan besar yang menanti kita bersama yaitu merawat kohesi sosial agar semangat kebersamaan tidak terkoyak oleh perbedaan pilihan. Pemilu Adalah Awal, Bukan Akhir Pemilu seharusnya menjadi sarana untuk memperkuat persatuan, bukan alasan untuk memperlebar jarak antarwarga. Dalam setiap pesta demokrasi, perbedaan pilihan merupakan keniscayaan. Namun, setelah seluruh tahapan selesai, masyarakat perlu kembali pada kesadaran bahwa kita semua berada di perahu yang sama sebagai warga negara yang menginginkan kesejahteraan, keadilan, dan pemerintahan yang amanah. Kini saatnya menggeser fokus dari siapa yang menang atau kalah, menuju bagaimana hasil pemilu dapat menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat luas. Pemilu bukan hanya momentum memilih, tetapi juga momen menanam harapan. Kini para kandidat telah menyampaikan visi, misi, dan janjinya kepada publik. Maka, pasca pemilu, masyarakat berhak dan bahkan wajib untuk menagih janji politik tersebut sebagai bentuk partisipasi aktif dalam demokrasi. Menagih janji bukan tindakan konfrontatif. Sebaliknya, ia merupakan cara elegan untuk memastikan agar komitmen politik benar-benar diwujudkan menjadi kebijakan publik yang berpihak kepada rakyat. Namun, penting diingat bahwa menagih janji tidak boleh dilakukan dengan mengungkit kembali polarisasi politik. Sudah saatnya kita menutup lembar perbedaan pilihan, dan membuka lembar baru pengawasan bersama terhadap kinerja pemerintahan terpilih. Kohesi Sosial Sebagai Pilar Demokrasi Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan, kohesi sosial merupakan fondasi utama agar hasil pemilu dapat diterima dengan lapang dada oleh semua pihak. Demokrasi tanpa kohesi sosial hanya akan melahirkan ketegangan berkepanjangan. Karena itu, masyarakat perlu terus memperkuat semangat gotong royong, saling menghargai, dan menjaga ruang publik tetap inklusif. Dalam hal ini, KPU berkomitmen untuk terus melaksanakan pendidikan pemilih dan sosialisasi politik secara berkelanjutan dan berkesinambungan untuk menumbuhkan kedewasaan berdemokrasi di tengah masyarakat. Peran media, tokoh masyarakat, serta komunitas lokal juga penting untuk menjadi penyejuk suasana dan menjembatani komunikasi antara masyarakat dan pemimpin terpilih. Menutup Luka, Menguatkan Harapan Setelah semua suara dihitung dan keputusan ditetapkan, tibalah saatnya bagi kita untuk menatap ke depan. Tidak ada manfaat dari terus mengungkit perbedaan pilihan politik yang telah berlalu. Yang lebih penting adalah memastikan agar amanat rakyat dijalankan dengan sebaik-baiknya oleh mereka yang telah dipercaya. Menagih janji politik adalah wujud kontrol sosial yang sehat; sedangkan menghindari polarisasi adalah kunci untuk menjaga keutuhan bangsa. Keduanya harus berjalan beriringan agar demokrasi kita tumbuh matang dan beradab. Pada akhirnya, pemilu bukanlah akhir dari perjalanan demokrasi, melainkan awal dari tanggung jawab bersama untuk memastikan janji-janji politik berubah menjadi kerja nyata bagi seluruh rakyat Indonesia. Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Lembaga maupun Redaksi